Menurut Spikolog Kenapa Penting Membuat Resolusi

Menurut Spikolog Kenapa Penting Membuat Resolusi

Menurut Spikolog Kenapa Penting Membuat Resolusi Pada Awal Tahun

Ada satu perihal yang tidak pernah mangkir tiap penggantian tahun, menurut spikolog penting untuk membuat resolusi tahun baru. Resolusi ini berbeda pada tiap pribadi. Ada yang pengin turunkan berat tubuh, beli handphone baru, liburan ke luar negeri, sampai habiskan waktu semakin banyak sama orang tercinta.

Peristiwa penggantian tahun tidak hanya sama sama kembang api dan terompet. Ada lagi satu.. resolusi. Umumnya, semangat bertukar tahun bersama-sama sama semangat memperbaiki diri dan hidup bertambah lebih baik.

Baca Juga: Menjaga Mata Dengan Pola Yang Benar

Tetapi, menurut spikolog penting membuat resolusi namun biasanya semangat ini cepet sekali kendornya. Alesannya? Banyak. Kelak saja dech. Esok saja awalnya. Eh nanti saja lah. Sampai belingsatan cocok tahun akhir datang.

Kamu begitu ? Tidak boleh berduka, yang kaya kamu rupanya banyak kok. Penelitiannya mengatakan dari demikian beberapa orang yang membuat resolusi tahun baru, cuman kurang dari 10% salah satunya yang betul-betul jaga usaha merealisasikan resolusi mereka. Emangnya, apa sich yang membuat beberapa orang tidak berhasil merealisasikan resolusi mereka? Salah satunya faktanya ialah kebanyakan tunda, seperti kelompok golongan prokrastinator yang terus menyampaikan mantra “nanti saja, masihlah ada kesempatan kok” yang pada akhirnya membuat resolusi hanya menjadi pajangan di kamar.

Fakta yang lain, ialah sebab resolusi yang dibikin tidak sesuai kenyataan dan umumnya kurang detil. Umumnya resolusi yang dibikin condong begitu umum, misalkan ‘pengen kurus’. Nah, resolusi kaya beini semestinya ditambahkan sama resolusi yang lain lebih detil, misalkan mulai melatih makan buah-buahan tiap hari, olahraga minimum 3x satu minggu, dan aktivitas yang lain dapat memberikan dukungan resolusi ‘pengen kurus’ barusan. Makin detil, karena itu akan makin gampang buat kita menjaringnkannya dan capai resolusi yang sudah dibikin.

Tetapi, kerap kali resolusi ini menjumpai ketidakberhasilan dan membuat kita frustrasi. Apa yang perlu dikerjakan agar diwujudkan? Baca anjuran Riza Wahyuni, S.Psi, MSi, psikiater medis dan forensik yang bekerja di Service Psikologi Geofira dan SATGAS PPA Jawa timur. Here we go!

Kenapa beberapa orang mempunyai kecondongan untuk bikin resolusi tahun baru? Menurut Riza, resolusi ini munculkan motivasi dan otomatis memberi semangat dalam diri sendiri untuk lakukan suatu hal yang mereka harapkan

Emangnya, membuat resolusi itu wajib ya? Psikiater Alexandra Gabriella mengatakan rupanya punyai resolusi tahun baru itu wajib sekali loh. Beberapa faktanya salah satunya ialah:

Punyai Gagasan Buat Berkembang

Salah satunya fakta keutamaan punyai resolusi ialah kita jadi punyai gagasan untuk berkembang. Sama kaya main games, tiap games tentu punyai goal yang ingin dicapai. Ngalahin lawan, koleksi banyak koin, atau jadi champion. Demikian juga dengan kehidupan, tiap orang tentu punyai suatu hal yang ingin dicapai. Itu mengapa resolusi ini penting buat jadi salah satunya sistem untuk dapat raih apa yang diharapkan, dan untuk jaga kita supaya masih on trek dengan goals. Melalui resolusi, kita bisa juga pahami apa yang penting dirubah atau ditambah pada tahun selanjutnya menjadi individu yang lebih bagus.

Agar Tidak Jemu

Jalani kegiatan rutin yang itu kembali itu kembali, apa tidak bosen? Membuat resolusi bisa juga jadi salah satunya langkah buat nantang kemampuan dan meminimalkan kejenuhan. Dengan membuat resolusi, kita jadi punyai sasaran baru. Adanya sasaran baru, kita akan bertambah terpacu buat memburu mimpi atau apa saja yang pengin kita capai.

Menghitung Perkembangan

Paling akhir, ada resolusi berguna juga menolong kita menghitung perkembangan kita sejauh ini. Jika tidak ada sasaran yang pengin dicapai pada tahun depan, kita kemungkinan akan berasa seperti hamster lari di roda putarnya. Sekencang apa saja ia lari, tetapi sesungguhnya ia tidak pergi kemana saja. Dengan resolusi, kita dapat mengetahui perubahan apa yang sudah kita raih, dan perubahan apa yang ingin kita raih nantinya.

“Problemanya, yang kita targetkan apa sesuai kekuatan dan persiapan kita? Atau kita membuat resolusi karena hanya ikutan saja?” sebut Riza.

Selaku contoh, resolusi tahun baru kita ialah bekerja di perusahaan baru dengan nominal upah spesifik. Tapi, kita tidak usaha belajar hal baru, tidak mengoreksi diri, dan tidak membuat penyiapan.

“Seharusnya, saat kita memiliki resolusi, kita telah mempersiapkan apa yang akan kita kerjakan secara kekuatan yang dipunyai, kesempatannya apa, dan sebagainya,” lanjut Riza.

Sesuai kenyataan ialah kunci supaya resolusi tahun baru diwujudkan. Yakinkan kita menghitung kekuatan, kekuatan, kelebihan, dan apa yang telah kita kerjakan awalnya. Disamping itu, kita perlu menguraikan resolusi yang begitu general bertambah lebih detil.

Misalkan, menukar resolusi “turunkan berat tubuh” dengan “makan buah dan sayur tiap hari” atau “olahraga setiap pagi sepanjang 30 menit”. Tidak lupa, membuat catatan harian dan mencontreng checklist jika sudah dikerjakan. Dengan begitu, kita dapat mengenali progress kita dari sekian waktu.

Jika resolusi kita ialah memperoleh pekerjaan yang lebih pantas, karena itu yakinkan kita meng-upgrade kualitas diri secara terus-terusan. Riza merekomendasikan untuk mengeruk kekuatan dengan beberapa membaca, mengikut seminar-online, atau manfaatkan internet untuk menambahkan wacana, bukannya cuman buka media sosial atau bermain game sejauh waktu.

Cukup banyak orang yang semangatnya menggelora pada awal, tapi perlahan menghilang seiring waktu berjalan. Supaya semangat lagi terbangun, perlu motivasi kuat yang hadirnya dari diri kita.

“Keinginannya, motivasi tiba dari dalam kita. Hingga, kita dapat ajak badan untuk bekerja bersama untuk capai apa yang diharapkan,” ujar Riza.

Dia mengingati untuk kadang-kadang memberikan penghargaan dalam diri sendiri sebab sudah berusaha. Badan tidak boleh cuman diperas tenaganya dan digunakan saja tiada memberikan penghargaan dalam diri sendiri.

“Ini bisa menjadi masalah nanti. Sehingga apa yang berlangsung? Semangatnya hanya sebentar dan berlangsung demotivasi saat misalkan tidak berhasil dalam hadapi atau capai apa yang diinginkan,” Riza mengingati.

Sama seperti yang telah diulas awalnya, dorongan paling besar tiba dari pada diri sendiri. Tapi, berapa punya pengaruh dorongan dari pihak lain? Menurut Riza, dorongan di luar cuman hanya sarana.

“Dorongan dari keluarga dan lingkungan ialah satu sarana. Balik lagi yang dapat tentukan ialah dari dalam diri sendiri, bagaimana kita membenahi apa yang buruk dari dalam kita,” terangnya.

Dan yang paling penting, tidak boleh membuat harapan yang begitu tinggi atau begitu muluk-muluk. Ukur kembali kekuatan kita, samakan dengan keadaan, dan yakinkan itu logis untuk dijangkau.

Ini bukanlah bermakna kita settle for the less. Kita tetap harus punyai sasaran dan usaha untuk mencapainya, agar ada resolusi yang betul-betul terwujud kelak.

Tidak seluruhnya hal berjalan sesuai gagasan. Ada saatnya, kendala mengadang dan mengakibatkan ketidakberhasilan. Apa yang perlu kita kerjakan agar tidak tersuruk?

“Kita harus memberi elemen positif pada diri sendiri. Memberi motivasi jika kita dapat lewat saat-saat susah dan dapat jalani proses kehidupan selanjutnya sampai capai titik kesuksesan,” Riza memperjelas.

Dia mengingati jika untuk capai kesuksesan, diperlukan stabilitas, usaha keras, dan evaluasi. Yang paling penting, kita harus mempersiapkan diri untuk hadapi ketidakberhasilan dan kembali bangkit jika siap.